Di balik hamparan hutan dan perbukitan hijau Kecamatan Teweh Timur, Kabupaten Barito Utara, tersimpan satu kekayaan alam yang sudah menjadi kebanggaan sekaligus sumber kehidupan warga Desa Sei Liju turun-temurun. Bukan padi sawah yang biasa kita temui di dataran rendah, melainkan padi gunung — jenis padi yang tumbuh subur di lahan kering perbukitan, tanpa perlu pengairan terus-menerus, dan tumbuh beriringan dengan kesuburan tanah hutan yang masih alami. Di tanah Sei Liju yang sejuk dan bersih, padi gunung tumbuh dengan tenang, menyerap kesegaran udara pegunungan dan air hujan yang turun dari langit, bebas dari polusi dan zat kimia buatan.
Padi gunung Sei Liju memiliki keistimewaan yang sulit ditandingi beras dari tempat lain. Bentuk butirnya agak kecil dan memanjang, berwarna merah kecokelatan atau putih kekuningan alami, dan saat dimasak aromanya begitu harum semerbak memenuhi ruangan. Teksturnya sedikit lebih kenyal dan terasa pulen di lidah, dengan rasa manis alami yang lembut. Yang paling berharga, beras ini kaya akan kandungan gizi — seratnya tinggi, mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, dan jauh lebih sehat karena ditanam sepenuhnya secara alami. Warga menanamnya tanpa pupuk kimia maupun pestisida buatan, membiarkan alam bekerja sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya padi gunung Sei Liju sering disebut sebagai "beras sehat dari alam", sangat baik dikonsumsi siapa saja, mulai anak-anak hingga orang tua yang menjaga kesehatan tubuh.
Menanam padi gunung di Sei Liju bukan sekadar bercocok tanam, melainkan bagian dari tradisi dan kearifan leluhur yang dijaga hingga kini. Warga menyiapkan lahan di lereng bukit yang tanahnya gembur dan subur, menanam benih yang sudah dipilih dengan teliti, lalu membiarkan padi tumbuh mengikuti irama musim dan hujan. Tidak ada pengairan buatan yang rumit, tidak ada perawatan yang menyiksa. Namun, kesabaran dan ketelatenan petani Sei Liju tak pernah berkurang. Mereka menjaga hutan di sekitar lahan agar sumber air tetap terjaga, menjauhkan tanaman dari segala bahan kimia, sehingga kesucian tanah tetap terpelihara. Warga percaya: semakin kita menjaga alam, semakin baik pula hasil yang diberikan alam kepada kita.
Memang, masa tanam padi gunung lebih lama dibanding padi biasa, dan hasil panennya tidak sebesar padi sawah intensif. Namun justru di situlah keistimewaannya. Padi gunung Sei Liju tumbuh perlahan, mematangkan semua kandungan gizinya dengan sempurna. Inilah yang membuat rasanya begitu khas dan kualitasnya luar biasa. Sayangnya, hingga saat ini padi gunung Sei Liju belum terlalu dikenal luas di luar daerah. Sebagian besar hasil panen masih dinikmati sendiri oleh warga atau dijual langsung ke tetangga dan pasar sekitar Barito Utara. Padahal, potensinya sangat besar. Di masa kini, ketika orang-orang mulai sadar pentingnya makanan sehat dan alami, beras padi gunung Sei Liju adalah jawaban yang tepat.
Ke depan, Pemerintah Desa Sei Liju bersama seluruh warga berharap padi gunung ini bisa menjadi andalan sekaligus kebanggaan desa. Lewat promosi yang kami bangun bersama, termasuk melalui laman dan media sosial desa, kami ingin memperkenalkan kepada dunia luar bahwa di lereng bukit Sei Liju, Teweh Timur, tumbuh beras yang sehat, murni, dan penuh kasih sayang alam. Kami ingin padi gunung Sei Liju dapat dikenal lebih luas, dapat dinikmati lebih banyak orang, dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan para petani yang telah bekerja keras merawat tanaman ini dengan penuh kesabaran.
Padi gunung Sei Liju bukan sekadar bahan makanan. Ia adalah warisan leluhur, buah tanah yang masih murni, dan bukti bahwa dengan menjaga alam, alam pun menjaga kita. Setiap butir berasnya adalah hasil kerja keras dan kesabaran warga Sei Liju. Semoga ke depannya, semakin banyak orang yang mengenal, mencintai, dan mendukung hasil bumi terbaik dari desa kami — Padi Gunung Sei Liju, harta karun dari perbukitan Barito Utara yang menyehatkan tubuh sekaligus menyejukkan hati.